Maros – Fardi (40) baru saja menepikan perahu motornya di dermaga kayu kawasan perbukitan karst Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pria berambut gondrong dan berkaus merah marun itu tampak lihai mengendalikan perahu kecilnya.
Ia baru saja menurunkan rombongan wisatawan yang diantarnya menyusuri Sungai Pute, jalur utama menuju Kampung Berua — salah satu destinasi unggulan di kawasan karst terbesar ketiga di dunia itu.

Pesona Alam di Tengah Pegunungan Karst
Perjalanan menuju Kampung Berua menempuh jarak sekitar tiga kilometer dari dermaga. Sepanjang rute itu, perahu motor meluncur perlahan di antara hijaunya hutan nipah yang tumbuh rapat di tepian sungai. Sesekali tampak burung bangau terbang rendah, sementara pantulan gugusan batu kapur raksasa di permukaan air menambah pesona alam yang menenangkan.
Fardi mengaku sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pemandu sekaligus pengemudi perahu wisata di kawasan ini. “Dulu belum seramai sekarang. Dulu cuma orang kampung sini yang lewat sungai, sekarang tiap hari ada wisatawan,” ujarnya sambil tersenyum.
Baca Juga : Badan Geologi Kementerian ESDM dorong bentang Karst Maros-Pangkep dilindungi
Kehidupan di Kampung Berua
Kampung Berua menjadi daya tarik utama wisata Rammang-Rammang. Kampung kecil di tengah lembah karst itu dihuni oleh belasan kepala keluarga yang masih mempertahankan tradisi dan kesederhanaan hidup. Rumah-rumah panggung berdiri berderet di antara hamparan sawah dan batu-batu besar yang seolah menjulang dari tanah.
Bagi wisatawan, suasana di kampung ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Suara gemericik air, kicau burung, dan semilir angin dari celah tebing batu menciptakan ketenangan yang sulit ditemukan di kota besar. Tak jarang, pengunjung memanfaatkan momen itu untuk berfoto, beristirahat di bale-bale bambu, atau mencicipi kopi khas Maros yang disajikan warga setempat.
Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan
Rammang-Rammang tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga sumber penghidupan bagi warga sekitar. Fardi dan para pemandu lain berharap agar keindahan alam karst ini tetap terjaga. Mereka sadar, keberlanjutan wisata bergantung pada keseimbangan antara alam dan manusia.
“Kalau alamnya rusak, kita juga yang susah,” kata Fardi. “Makanya, kami di sini sepakat menjaga sungai, tidak buang sampah sembarangan, dan melarang perahu besar yang bisa merusak tepian.”
Dengan keindahan alamnya yang menakjubkan dan kearifan lokal warganya, Rammang-Rammang terus menjadi kebanggaan Maros, serta salah satu ikon pariwisata Sulawesi Selatan yang layak dijaga dan dikunjungi.


















